Materi Training
Empat perilaku dalam mengaktualisasikan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-hari
1. Mendengar aktif
Mendengar aktif menggambarkan sikap pikiran yang terbuka (open-minded), yakni kesediaan untuk memperhatikan pandangan dan kepentingan yang lain secara serius. Kesediaan untuk mendengar memang bukan sikap yang mudah untuk dilakukan. Banyak kasus menunjukkan bahwa orang lebih suka untuk didengar daripada mendengar –> personalitas yang otoriter –> pemaksaan pikiran kepada orang lain. Di samping itu, untuk menjadi pendengar aktif memerlukann rasionalitas yang cukup memadai karena mendengar aktif bukan menuntut kita mau mendengarkan, tetapi yang lebih penting adalah memahami secara komprehensif berbagai pandangan alternatif beserta kerangka pemikirann yang mendasarinya. Hanya dengan dasar pemahaman yang komprehensif terhadap pendapat orang lain inilah kita bisa kita bisa bersikap kritis maupun apresiatif terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan, yang dalam banyak hal, mungkin benar. Dalam konteks demokrasi, tuntutan untuk menjadi pendengar aktif sebenarnya jauh lebih esensial daripada tuntutan formal yang mendasarkan keputusan semata-mata pada angka. Sangat ironis, misalnya, jika menuntut demokrasi tanpa memperhatikan pemikiran/pendapat yang berbeda, sekalipun hanya disuarakan oleh satu orang.
2. Reframing
Dalam konteks demokratis,, reframing terhadap sikap atau perilaku orang lain harus juga didasrkan pada prinsip persamaan, yakni bahwa orang lain mungkin menanggapi suatu permasalahan denagn sikap yang sangat berbeda. Masalah yang sering muncul dalam dalam kaitan ini adalah menciptakan kerangka yang kita gunakan sebagai dasar untuk melihat dan, yang lebih penting, menilai perilaku orang lain. Singkatnya, kita berusaha untuk melihat perilaku orang lain dengan kerangka kita. Sikap terakhir ini, jelas sangat tidak mencerminkan prinsip persamaan setidak-tidaknya dalam dua hal. Kita tidak menghargai orang lain tersebut sebagai individu yang memiliki kebutuhan ataupun tujuan sendiri dalam berperilaku. Di samping itu, karena keterbatasan kita untuk memahami semua kebutuhan ataupun tujuan orang lain, kita tidak punya otoritas untuk melakukan penilaian terhadap perilaku orang lain, karena pada akhirnya semua penilaian itu sangat didasarkan pada pengalaman pribadi kita.
3. Penggunaan bahasa ‘Aku’ dan “Kamu’
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, demokrasi terdiri dari hubungan-hubungan antar individu,, bukan isolasi dari individu-individu tersebut. Hubungan-hubungan ini merupakan resiprositas dimana setiap individu saling membantu pengembangan individu yang lain. Sikap yang sangat bertentangan dengan karakter demokratis ini adalah penggunaan bahasa ‘aku’ dan ‘kamu’ yang sangat berlebihan. Pennggunaan bahasa ‘aku’ dan ‘kamu’ cenderung menjadikan hubungan antar pelaku demokrasi menjadi saling eksklusif dan tidak saling menguntungkan. Hubungan seperti ini menghasilkan sikap masa bodoh terhadap pelaksanaan demokrasi sebagai suatu sistem, masing-masing pelaku mengejar kepentingan ataupun idealisme mereka sendiri. Sekalipun tidak mengganggu kebebasan pelaku lain, penggunaan bahasa ‘aku’ dan ‘kamu’ yang berlebihan sama sekali tidak menghargai sikap, perilaku, maupun kepentingan pelaku lain.
4. Menghilangkan stereotype
Manifestasi lain dari sikap yang didasarkan pada prinsip persamaan adalah menghilangkan stereotype. Setidak-tidaknya, ada dua alasan mengapa stereotyping bukan merupakan sikap yang kondusif bagi demokrasi. Pertama, dengan mengasosiasikan seorang individu ataupun kelompok individu dengan perilaku ataupun sikap tertentu, kita mengabaikan fakta bahwa pelaku demokrasi tersebut adalah individu-individu yang bebas dan memiliki kapasitas untuk memilih dan menentukan. Dalam keranngka ini, pada tingkat individual, perilaku mereka tidak bisa diasosiasikan atau dibatasi secara kaku dengan karakter atau sifat-sifat yang melingkupinya. Kedua, stereotyping cenderung tidak egaliter dalam arti bahwa stereotyping terkait dengan hierarkhi. Ketika kita memberikan stereotype terhadap individu atau kelompok individu, yang kita lakukan adalah mengidentikkan mereka dengan karakter-karakter yang cenderung lebih rendah daripada yang kita miliki.





