Archive for September, 2009
Segitiga Kehidupan Saat Terjadi Gempa
Oleh : Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI),
- Pengalaman
Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun.
Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985.
Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat.
- Percobaan
Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka “menunduk dan berlindung” dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup “segitiga kehidupan”.
Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya “segitiga kehidupan” bertahan hidup 100%.
Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin.
- Fakta
Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985.
Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing.
Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong.
Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu.
- Teori segitiga kehidupan
Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.
Ruangan kosong ini lah yang saya sebut “segitiga kehidupan”.
Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk.
Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.
Materi Training
Empat perilaku dalam mengaktualisasikan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-hari
1. Mendengar aktif
Mendengar aktif menggambarkan sikap pikiran yang terbuka (open-minded), yakni kesediaan untuk memperhatikan pandangan dan kepentingan yang lain secara serius. Kesediaan untuk mendengar memang bukan sikap yang mudah untuk dilakukan. Banyak kasus menunjukkan bahwa orang lebih suka untuk didengar daripada mendengar –> personalitas yang otoriter –> pemaksaan pikiran kepada orang lain. Di samping itu, untuk menjadi pendengar aktif memerlukann rasionalitas yang cukup memadai karena mendengar aktif bukan menuntut kita mau mendengarkan, tetapi yang lebih penting adalah memahami secara komprehensif berbagai pandangan alternatif beserta kerangka pemikirann yang mendasarinya. Hanya dengan dasar pemahaman yang komprehensif terhadap pendapat orang lain inilah kita bisa kita bisa bersikap kritis maupun apresiatif terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan, yang dalam banyak hal, mungkin benar. Dalam konteks demokrasi, tuntutan untuk menjadi pendengar aktif sebenarnya jauh lebih esensial daripada tuntutan formal yang mendasarkan keputusan semata-mata pada angka. Sangat ironis, misalnya, jika menuntut demokrasi tanpa memperhatikan pemikiran/pendapat yang berbeda, sekalipun hanya disuarakan oleh satu orang.
2. Reframing
Dalam konteks demokratis,, reframing terhadap sikap atau perilaku orang lain harus juga didasrkan pada prinsip persamaan, yakni bahwa orang lain mungkin menanggapi suatu permasalahan denagn sikap yang sangat berbeda. Masalah yang sering muncul dalam dalam kaitan ini adalah menciptakan kerangka yang kita gunakan sebagai dasar untuk melihat dan, yang lebih penting, menilai perilaku orang lain. Singkatnya, kita berusaha untuk melihat perilaku orang lain dengan kerangka kita. Sikap terakhir ini, jelas sangat tidak mencerminkan prinsip persamaan setidak-tidaknya dalam dua hal. Kita tidak menghargai orang lain tersebut sebagai individu yang memiliki kebutuhan ataupun tujuan sendiri dalam berperilaku. Di samping itu, karena keterbatasan kita untuk memahami semua kebutuhan ataupun tujuan orang lain, kita tidak punya otoritas untuk melakukan penilaian terhadap perilaku orang lain, karena pada akhirnya semua penilaian itu sangat didasarkan pada pengalaman pribadi kita.





